Vespa yang Prihatin, Kanzen Berjuang, dan Honda Berpesta Pora
Posted on July 5, 2005 - Filed Under Artikel VIO | Leave a Comment
SITUASI bisnis kendaraan roda dua dalam tiga tahun terakhir ini semakin ketat, sehingga membuat beberapa pemain lama yang tidak memiliki produk inovatif harus rela keluar dari arena pertarungan. Terlebih lagi ketika prinsipal kendaraan roda dua dari Jepang mulai menguasai industri di Indonesia, baik dalam manajemen maupun kepemilikan. Kondisi itu membuat peta pertarungan kendaraan roda dua semakin tidak seimbang. Mereka yang tidak memiliki pangsa kuat dan dukungan langsung dari prinsipal, hidup dalam kondisi yang memprihatinkan.
Hal itu dirasakan oleh manajemen PT Danmotor Vespa Italiando, produsen motor Italia bermerek Vespa. Industri ini hampir pasti tidak mengalami pertumbuhan yang berarti. Bahkan, line industri yang tadinya berjalan tiga shift pada tahun 1986, turun menjadi dua shift pada tahun 1992 sampai memasuki masa krisis. Pada saat itu, kegiatan produksi masih mencapai antara 1.800 unit sampai 2.000 unit per bulan.
Sejak krisis, kegiatan produksi rontok, tinggal menjadi 600 unit per bulan atau sekitar 26 unit per hari. Penurunan pasar ini dengan sendiri mendorong manajemen melakukan efisiensi semaksimal mungkin, sehingga industri yang dijalankan tinggal satu shift.
“Situasi ini memang tidak bisa dihindari karena kita hanya punya dua model, yakni excellent dan excel. Padahal, 90 persen pasar sepeda motor adalah bebek,” kata Senior Manager Commersial PT Danmotor Vespa Italiando Gershy Singgih.
Pasar vespa memang tidak tumbuh seperti bebek, kata Gershy, tetapi hanyalah bagi mereka yang loyal saja atau pernah memiliki hubungan historis dengan kendaraan tersebut. Selain itu, juga bagi konsumen yang mengetahui keandalan teknologi Italia. Jadi, pasarnya memang spesifik sehingga tidak melonjak tajam.
Keterbatasan inilah yang membuat industri perakitannya tidak bekerja optimal sehingga tenaga yang dipertahankan pun tenaga yang lama. Untuk mengatasi itu tidak mungkin ditempuh dengan cara industrialisasi karena pihak prinsipal melihat volumenya terlalu kecil. Satu-satunya cara adalah melakukan impor dalam keadaan utuh produk Piaggio, jenis vespa atau yang disebut dengan ET4-150 atau jenis bebek seperti Liberty LE-150. Upaya ini dilakukan untuk mengembalikan pasar yang lesu dan persepsi selama ini bahwa vespa adalah skuter, padahal ada juga yang jenis bebek.
***
APA yang disampaikan Gershy menunjukkan kondisi yang memprihatinkan karena mereka harus bertahan dengan produk impor, yang sudah pasti harganya mahal. Untuk jenis vespa dijual dengan harga on the road Rp 25,7 juta, sedangkan Liberty Rp 23,33 juta. Dengan harga yang sedemikian tinggi dan konsumen yang sempit, bukan hal gampang untuk lepas dari keprihatinan tersebut. Paling tidak, Vespa tetap punya pasar, tetapi ya pasar yang terbatas.
Sementara mereka yang mencoba membangun industri dengan akses teknologi maupun desain dari mitra mereka yang non-Jepang, harus siap menghadapi jepitan dari prinsipal, yang kini dalam posisi pemegang saham mayoritas. Pemain baru ini ditekuk tidak hanya dari sisi persaingan produk, seperti keunggulan model, teknologi, dan volume pasar, tetapi juga penyekatan terhadap akses untuk masuk ke jalur industri pendukung.
Praktis pemain baru harus berjuang keras dan berpikir cerdik agar lolos dari jepitan raksasa otomotif dunia di jenis kendaraan bebek. Mau tidak mau, kata Wakil Presiden Direktur PT Semesta Citra Motorindo (SCM) Urwan Herlambang, produsen motor Kanzen, pihaknya harus mencari cara agar tetap eksis. Upaya untuk menuju bisa lepas dari jepitan dan bisa bertahan di pasar tidak hanya sekadar berhasil meningkatkan efisiensi, tapi juga mencari industri pendukung.
“Untuk itu tidak mudah, karena pelaku di industri pendukung tidak bisa leluasa mencari pasar. Biasanya mereka terikat kontrak dengan prinsipal produk Jepang. Kalau para vendor ini sampai ketahuan memasok ke industri motor non-Jepang, maka kontrak langsung diputus. Itu artinya industri pendukung akan mati. Cara ini memang tidak fair karena peluang vendor untuk bisa meningkatkan kapasitas produksi, seiring dengan naiknya volume pasar, tidak bisa dilakukan,” kata Urwan.
Para vendor akan memilih mempertahankan kontrak dari industri sepeda motor Jepang, kata Chairman SCM Didik Soewandi, walaupun cuma memakan 40 sampai 60 persen dari kapasitas produksinya. Bagi mereka lebih baik memilih yang sudah pasti daripada coba-coba melakukan penetrasi pasar, tapi hasil yang pasti hilang.
“Kita menyadari hal itu dan bisa mengerti ketakutan para pemilik industri pendukung. Cuma masalahnya untuk jangka panjang industri nasional tak akan berkembang. Produsen lokal tetap akan kekurangan pasokan dan ini jelas membuat industri tidak efisien dan harga jual pun menjadi mahal,” kata Didik.
Seandainya peluang untuk bisa didukung oleh industri komponen di dalam negeri terjadi, pasti akan tumbuh industri sepeda motor di Indonesia yang kuat dalam waktu singkat. Pasalnya, pasar untuk produk itu masih sangat besar dan itu tidak hanya terbatas di Pulau Jawa yang selama ini didominasi oleh produk Jepang, tetapi juga di luar Pulau Jawa. Kondisi ini dalam jangka panjang akan merugikan karena ketiadaan industri pendukung yang kuat. Pihak Jepang yang umumnya memiliki industri kuat di ASEAN akan berlenggang kangkung untuk menikmati sumber pasokan dari industri pendukung di ASEAN. Tidak mustahil industri lokal akan mati jika produk komponen dari negara ASEAN lainnya lebih murah ketika pasar bebas berlaku.
Inilah ruginya bagi negara, namun untuk bisa hidup, cara yang ditempuh untuk mengatasi itu adalah berjuang mencari mitra bagi industri sepeda motor Kanzen, di luar Jepang. Pilihannya, kata Urwan, adalah Korea Selatan (Korsel). Negeri ini dinilai kapabel dalam bidang teknologi dan memiliki kesungguhan membangun industri dan bukan memaksa mitranya cuma jadi pedagang. Secara historis, Korsel juga memiliki kesamaan dengan Indonesia, ingin bersaing dengan Jepang.
Atas dasar itulah, Kanzen membangun kerja sama dengan Daelim Motor Corporation yang di negerinya mereka berkongsi dengan Honda. Dengan Daelim, pihak SCM bekerja di bidang asistensi teknologi dan suplai berbagai komponen yang totalnya mencapai 60 persen dari total unit sepeda motor Kanzen.
“Cara ini tampaknya cukup efektif karena SCM bisa memproduksi 30.000 unit per bulan. Pasarnya pun terus berkembang di luar Jawa. Kita mesti pandai memilih pasar dan teknologi. Sementara untuk sektor bisnisnya, bekerja sama dengan Samsung Corporation,” ujar Didik.
***
NASIB kedua industri itu memang berbeda dengan Astra Honda Motor (AHM). Apabila kedua industri itu harus hidup dalam kondisi tertekan dan berjuang, AHM justru menikmati pasar. Boleh dikata, Agen Tunggal Pemegang Merek (ATPM) yang kini mayoritas sahamnya dikuasai Honda Jepang itu tengah menikmati panen yang luar biasa. Mereka yang sempat amblek pasarnya pada tahun 1998 hingga 1999 ini kembali meningkat. Tahun 2002, sampai dengan bulan Agustus Honda telah menguasai pangsa pasar sebanyak 928.765 unit dari total penjualan yang mencapai 1.475.875 unit.
Kemungkinan pangsa pasar Honda akan meningkat setelah Honda Motor Company (HMC) menjadi pemegang saham mayoritas. Dengan kepemilikan yang lebih besar, maka seretnya inovasi teknologi dan desain yang selama ini terjadi saat masih dikendalikan Astra Internasional (AI) mulai hilang.
Bahkan, dalam dua tahun terakhir ini mengalami perkembangan yang dinamis. Jepang yang selama ini pelit, tiba-tiba menjadi royal dalam inovasi, sehingga dalam dua tahun paling tidak telah muncul produk Honda Supra, Supra X, Legenda, dan yang terakhir adalah Karisma yang memiliki kapasitas mesin 125 cc, dan sistem kilometer digital untuk mencatat jarak tempuh.
Dalam segala hal, Karisma memang jauh lebih unggul di kelasnya sehingga memungkinkan bagi Honda untuk memperbesar pasarnya di tengah terseok-seoknya pasar. Wajar jika Vespa pun kini dalam kondisi yang prihatin, Kanzen tengah terjepit dan berjuang untuk lepas dari kungkungan penguasa pasar, dan Honda yang berpesta merayakan kemenangannya. Kemenangan itu tidak hanya sekadar soal pasar, tetapi juga teknologi dan menjadi pemilik yang mayoritas. (ast)
taken from http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0209/17/iptek/vesp34.htm
Comments
Leave a Reply




