Vespa Prangko Dikirim Ke Mana, Bung!

Posted on July 5, 2005 - Filed Under Artikel VIO | Leave a Comment


KETIKA M Ludfi (48) berkeputusan menempeli vespa tua keluaran tahun 1962 dengan prangko-prangko yang juga tua, ia tak memikirkan bakal mendapatkan pertanyaan nakal. Ketika dipajang dalam rangka Malang Philately Exhibition sejak 27 Juni-1 Juli 2001 di Kota Malang, seorang pengunjung bertanya: “Dengan prangko begini banyak sampai di mana kalau dikirim, Bung!”Ludfi malah menanggapinya dengan serius. “Oh ini tidak dikirim, Mas. Hanya koleksi prangko tua saya dipadukan dengan Vespa tua milik teman saya, Nawang,” jawabnya.


Keruan si penanya terkekeh. Banyak pengunjung juga senyam-senyum. Mereka tahu, bahwa Vespa yang penuh ditempeli prangko itu hanya penyaluran hasrat kaum filatelis.


Tak tanggung-tanggung memang prangko-prangko bergambar tokoh-tokoh dunia berjumlah 9.999 buah menutupi seluruh permukaan motor buatan Italia itu. Koleksi prangko Ludfi terbaru bergambar 100 tahun Bung Karno (BK).


“Saya hanya hobi mengumpulkan prangko sejak di bangku SMP dulu, sampai kini keterusan,” tutur Ludfi. Vespa prangko Ludfi sesungguhnya tak spektakuler benar. Sungguh sederhana, prangko-prangko hanya ditempel berjejer-jejer pada seluruh permukan cat Vespa, kecuali roda tentu saja. Namun, nilai sebuah karya seni tidak bisa diukur hanya dari material.


***



SENIMAN instalasi asal
Bali Nyoman Erawan, bisa menjual karya instalasi sebesar Rp 20 sampai Rp 30
juta. Padahal hanya menggunakan material dari perahu lapuk plus ranting bambu.
Ide dan pesan moral yang dimunculkannnya yang membuat sebuah karya menjadi mahal
dari sisi materi.


Di situlah barangkali
karya vespa prangko itu bisa diletakkan. Ia tak sekadar menempel kertas
(kebetulan prangko) di tas cat, tetapi bisa menggambarkan sebuah kecintaan pada
sejarah.


Menurut Ludfi faktur
pajak pertama vespa jenis GS itu dikeluarkan pertama kalinya di Arab Saudi. “Ini
katanya hanya ada lima biji di Indonesia,” tuturnya.


Bisa dibayangkan sejak
tahun 1962, sudah berapa cerita yang disimpan pada putaran roda vespa itu.
Bayangkan juga siapa pula yang pernah mengendarainya. Pada sisi lain,
mengumpulkan 9.999 prangko bukanlah pekerjaan ringan. Itu mesti dimulai sejak
dini.


Seorang filatelis asal
Belanda yang tinggal di Bali, William Vroegop mengatakan ia mengumpulkan prangko
sejak usia dini. “Makanya kalau prangko saya sekarang sebanyak ini dan banyak
yang eksklusif bukan pekerjaan mudah. Memerlukan ketekunan dan konsisten,”
katanya.


Belakangan para
kolektor pun mulai merambah dunia bisnis. Dalam pameran yang diselenggarakan
Kantor Pos Malang misalnya, tak kurang diikuti 23 kolektor. Mereka membuka stan
pameran lengkap dengan papan sebagai mereka dagang. “Berjualan prangko tak sama
dengan dagangan lain, ada nilai ekskluvitasnya,” kata William.


Sesungguhnya menjadi
filatelis sama dengan menjalani laku seniman sekaligus niaga. Jujur harus
diakui, pelukis mana di Indonesia yang tidak mau menjalani laku “niaga”, pasti
akan mampu melanjutkan ide-ide besarnya. Maka ketika Ludfi menciptakan vespa
prangko ia mesti diletakkan pada posisi seniman. Tetapi, ketika ia turut serta
menawarkan benda seninya kepada para kolektor, di situlah ia mencoba peruntungan
niaga. “Kalau tidak, saya tidak bisa mencari barang yang eksklusif,” kata
Ludfi.


Eksklusif memang tak
sama dengan pengertian orisinalitas dalam kesenian. Tetapi, ketika prangko tua
ditempelkan pada vespa tua, pertanyaannya tidak saja: akan sampai di mana
kiriman itu. Yang lebih penting penghargaan terhadap ketekunan, eksklusifisme,
serta orisinalitas karya. (Putu Fajar Arcana)


Takenfrom Kompas
(http://www.kompas.com/kompas%2Dcetak/0107/07/jatim/vesp35.htm)

Comments

Leave a Reply