Vespa Asoyyy
Posted on June 4, 2007 - Filed Under Berita / Agenda /Event | 2 Comments
Ada kenangan tersendiri di balik ‘sosok gendut’ itu.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Langit masih cerah di daerah Jalan
Nangkasuni, Bandung. Tak lama kemudian, Koko Biskat membunyikan klakson dan
menghentikan skuter merek Vespa di depan rumahnya. Tanpa pikir panjang, anaknya,
Denny M Biskat, langsung berlari menemuinya. Tujuannya mereka: Pasar.
Setiap mau ke pasar, sang ayah sering mengajak Denny kecil. Bukan karena
senang melihat pasar bila Denny lantas bersemangat. Dia justru merasa nyaman
ketika duduk di atas beras yang diletakkan di atas skuter ayahnya. Kenangan
itulah yang dibawa Denny hingga dewasa. Denny tidak bisa membayangkan jika beras
itu dibawa oleh motor biasa. Tentu saja, tempat untuk penumpang akan ‘terlahap’
oleh karung beras itu.
sumber : Republika 02 Juni 2007
Ada kenangan tersendiri di balik ‘sosok gendut’ itu.
Jarum jam menunjukkan pukul 16.00 WIB. Langit masih cerah di daerah Jalan
Nangkasuni, Bandung. Tak lama kemudian, Koko Biskat membunyikan klakson dan
menghentikan skuter merek Vespa di depan rumahnya. Tanpa pikir panjang, anaknya,
Denny M Biskat, langsung berlari menemuinya. Tujuannya mereka: Pasar.
Setiap mau ke pasar, sang ayah sering mengajak Denny kecil. Bukan karena
senang melihat pasar bila Denny lantas bersemangat. Dia justru merasa nyaman
ketika duduk di atas beras yang diletakkan di atas skuter ayahnya. Kenangan
itulah yang dibawa Denny hingga dewasa. Denny tidak bisa membayangkan jika beras
itu dibawa oleh motor biasa. Tentu saja, tempat untuk penumpang akan ‘terlahap’
oleh karung beras itu.
Kekaguman Denny kian bertambah ketika dia juga kerap diajak berbelanja bersama
ayah dan ibunya. Meskipun barang bawaan banyak, ia tetap merasakan kenyamanan.
”Memang lebar banget ini motor,” pikirnya saat itu. Kenyamanan yang
diperolehnya dari skuter membuat ia tergila-gila kepada skuter.
Waktu berlalu. Sekitar 20 tahun kemudian, sembilan temannya menjemput untuk
berjalan-jalan. Mereka sering berkeliling-keliling kota dengan skuter miliknya.
”Kami bisa jalan-jalan sampai ke luar kota seperti Garut, Kuningan, dan
lain-lain,” ujar lelaki kelahiran 7 Juni 1968 ini. Sepuluh orang itu merupakan
teman sekampung yang sama-sama mencintai skuter –selain mencintai pasangan
masing-masing.
Seiring waktu sepuluh orang tersebut berkeinginan untuk mencari teman-teman
lainnya sesama penyuka skuter. Rupanya dengan usaha keras, keinginan pun
tercapai. Mereka memberi nama perkumpulan tersebut dengan nama Vespa Owners Club
(VOC).
Terasa mewakili salah satu merek, nama itu diganti. Setelah berganti nama
beberapa kali, pada 18 Maret 1995 berdirilah Scooter Owners Group (SOG). Denny M
Biskat pun diangkat menjadi ketua umum SOG. Kini, SOG hadir tidak hanya di
Indonesia. Derunya terdengar pula hingga ke Singapura, Kuala Lumpur, dan Brunei
Darussalam.
Nama SOG juga sempat tertera dalam media cetak keluaran Inggris, Scootering
Magazine. SOG tampil sebagai klub terbesar dunia dan telah merealisasikan
rencananya sebagai klub yang berkiprah internasional. Bahkan, kini telah
terbentuk SOG Singapura dan Malaysia sebagai brother SOG Indonesia.
Denny mengatakan, untuk mengikat tali silaturahmi antaranggota banyak kegiatan
yang dilaksanakan di antaranya Jambore Scooter se-Asia kedua. Kegiatan ini
merupakan peringatan ulang tahun SOG kesembilan. ”Yang hadir mencapai 10 ribu
dari 500 klub,” kata dia.
Atribut yang Menggetarkan
Mata Adi Siswono (35 tahun) tertuju pada sebuah wing. Sudah hampir 15 menit ia
menggosok wing dari bahan kuningan itu. Ketika lap di tangan kanannya diangkat,
tampak wing yang digenggam di tangan kirinya berkilau.
Dalam sekejap, wing itu telah menghiasi rompi yang dipakainya. ”Nggak enak
kalau rompi ini polos,” cetus dia. Kecintaan pada skuter membuat Adi
menggandrungi aksesori. ”Jangan hanya motor saja yang terlihat gaya, kita pun
harus terlihat keren,” kata dia.
Wing hanyalah salah satu atribut yang tersemat pada rompi yang digunakan para
anggota ketika berkonvoi.
Selain wing, ada beberapa atribut yang biasa digunakan dalam konvoi. Mereka
harus mengenakan kaus kebesaran masing-masing klub. Di Scooter Owners Group
(SOG) Indonesia, kausnya berbentuk standar dengan bahan katun berwarna hitam
yang berhias gambar kelelawar di bagian belakang.
Selain kaus, pencinta skuter biasanya mengenakan rompi kebesaran. Rompi yang
berwarna gelap itu terbuat dari bahan jeans dan kulit. Pada rompi itulah
bertabur wing atau pin. Untuk mendapatkan aksesori itu pun tidak perlu pusing.
Selain didapat dari organisasinya, ia sering berburu ke pasar-pasar atau tempat
pencinta skuter. Di sana terdapat beragam aksesori termasuk aneka helm unik.
Untuk skuternya, Irwan punya aksi sendiri. Dia menambah aksesori berupa stiker
dan bendera. Stiker yang dipasang bisa menjadi tanda seberapa sering ia
mengikuti konvoi.
Ini berlaku pula untuk bendera dan wing yang dikenakan. ”Jika kita konvoi ke
tempat jauh pasti mendapatkan aksesori dari daerah tersebut,” katanya.
Irwan tidak mengeluarkan uang khusus untuk mengumpulkan aksesori itu. Maklum
saja, aksesori itu didapatnya dari teman-teman sesama pencinta skuter. Bahkan,
tetangganya ada yang dengan sukarela memberi pin skuter berwarna emas dari
Italia.
Namun, yang paling ia sukai adalah wing. Karena wing ini ia dapatkan dengan
perjalanan panjang minimal 300 km. Saat itu ia bersama ribuan anggota SOG
melewati jalur-jalur yang menantang. Karenanya sebelum memutuskan melakukan
perjalanan, stamina pengendara kendaraan harus benar-benar fit.
Dengan wing itulah, ia merasa sangat gagah. ”Saat melihat wing, saya suka
senyum-senyum sendiri,” katanya.
Cukup Meniup Busi
Denny M Biskat punya kenangan tersendiri pada skuter keluaran 1962 miliknya.
Di balik sosok tua skuter itu, Denny menyimpan kenangan tak terlupa bersama
istrinya, Ernawati. Suatu ketika, bersama skuter tuanya, pasangan ini
berjalan-jalan ke Palembang bersama rekan mereka.
Di tengah perjalanan, temannya mulai merasa kelelahan. Namun, di tempat mereka
berhenti, rupanya tidak ada penginapan yang tampak. Lantaran tak mampu pula
untuk melanjutkan perjalanan, keputusan pun diambil. Mereka ‘menginap’ di
pangkalan ojek! Barulah pada keesokan hari, mereka melanjutkan perjalanan.
Tampaknya, Denny memang lebih nyaman bergerak dengan skuter-skuternya. Saat
ini dia memiliki empat skuter keluaran 1951, 1958, 1962, dan 1987. Untuk
sehari-hari, lelaki berperawakan tinggi ini biasa menggunakan skuter tahun 1962.
Kecintaan serupa juga dirasakan Iskandar (75 tahun). Di usia tuanya, ia tetap
mengikuti perjalanan ke mana saja. Tentu, dengan skuternya. ”Dari tahun 1952
saya sudah pakai Vespa,” katanya.
Sepanjang hidupnya, selalu ada skuter yang menemani. Sejak usia belasan, ia
sudah gonta-ganti motor. Namun, pilihannya selalu berakhir pada skuter. Bagi
dia, skuter itu amat istimewa. Selain mesinnya kuat, harganya juga terjangkau.
Uniknya, semakin tua skuter, harganya semakin mahal.
Tak cuma itu. Selain penampilan yang menarik, perawatan kendaraan ini tidak
sulit dan murah meriah. Meski jarang rusak, skuter kerap bermasalah pada busi,
karburator, dan platina. ”Motor lain lebih parah dan harganya mahal-mahal,”
ujar Iskandar.
Jika ketiga suku cadang ini rusak, ia tidak perlu bingung merogoh kantong
untuk memperbaikinya. Harga busi hanya Rp 9.500, karburator Rp 30 ribu, dan
harga platina Rp 25 ribu.
Lain lagi dengan Irwan (25). Suatu hari, skuternya mogok di tengah jalan.
Tanpa ragu, ia langsung membuka penutup motor dan meniup-niup salah satu suku
cadangnya.
”Yang saya tiup itu businya,” cetus dia. Cukup satu menit, motor itu
langsung menyala kembali. ”Itu rumus saya, kalau saya malas ke bengkel,”
katanya.
Tidak Cuma Konvoi
Boleh jadi sebagian besar orang melihat perkumpulan motor hanya disibukkan
dengan urusan konvoi dan melakukan aksi di jalan. Namun, SOG berusaha melakukan
lebih dari itu.
* Nyalakan lampu
Pada 1998, pencinta skuter sudah menginstruksikan menyalakan lampu besar saat
melakukan konvoi.
* Misi sosial
Saat konvoi, ”Biasanya kita sekalian bakti sosial dengan cara membagi-bagi
sembako atau kegiatan lainnya,” ujar Ketua Umum SOG, Denny M Biskat. Dalam
waktu dekat ini, SOG pun akan melaksanakan wing day. Rute yang akan digunakan
adalah Bandung-Pangandaran. Dalam perjalanan tersebut, mereka akan
membagi-bagikan sembako kepada warga yang tertimpa tsunami 2006 lalu.
* Misi pariwisata
Pada November 1995, SOG diundang Kementerian Pariwisata Malaysia. Mereka meminta
SOG untuk mensosialisasikan pariwisata Malaysia. Pada Desekmber 2006, ia kembali
diundang Malaysia untuk misi yang sama. Sejak saat itu, SOG pun mempunyai misi
untuk memperkenalkan pariwisata, seni, dan budaya Indonesia. ”Sayang pemerintah
kita tidak segencar Malaysia,” kata Denny menjelaskan. Namun, atas kesadaran
anggota, akhirnya tanpa diminta mereka melakukan tugasnya untuk memperkenalkan
pariwisata.
Sumber : Republika 02 juni 2007
Comments
2 Responses to “Vespa Asoyyy”
Leave a Reply





di jual vespa tahun 1958 orisinil harga 25.jt nego
di jual vespa tahun 1958 orisinil harga 25.jt nego hub 081210079144