Menurunnya Penjualan Vespa
Posted on April 20, 2009 - Filed Under Artikel VIO | 30 Comments
By: Ibrahim Fatwa Wijaya
Di awal tahun 1960-an Vespa mulai masuk Indonesia dengan ATPM PT Danmotors Vespa Indonesia (DVI). Pada waktu itu membeli sebuah Vespa berarti membeli sebuah simbol status sosial. Hanya orang-orang tertentu dari kalangan menengah ke atas yang sanggup membelinya. Orang-orang pun akan cukup bangga apabila bisa mengendarai Vespa. Bahkan di salah satu daerah, tepatnya di Kelurahan Danukusuman, Solo, hanya satu orang yang mampu membeli sebuah Vespa baru karena harganya pada waktu itu yang cukup tinggi dan jauh lebih mahal dari motor-motor lain. Sampai-sampai pada waktu itu kita bisa memilih mau membeli Vespa atau sebuah rumah.
Namun seiring dengan perkembangan jaman, persaingan di tingkat industri sepeda motor mulai meningkat dengan masuknya motor-motor bebek buatan Jepang ke Indonesia. Pihak Honda, Yamaha, Suzuki, ataupun Kawasaki cukup responsif terhadap pesaing dan konsumen sehingga dari tahun ke tahun terus memunculkan model-model baru yang lebih trendi, stripping-stripping baru yang lebih gaul, serta aksesoris-aksesoris baru yang lebih modern. Dan sesuai dengan kondisi masyarakat Indonesia yang kebanyakan dari kalangan menengah ke bawah, pabrikan-pabrikan Jepang mampu memproduksi motor yang sesuai keinginan konsumen, yaitu irit bahan bakar dan harganya terjangkau.
Di pihak lain, Vespa ternyata kurang responsif menanggapi hal itu. Kepercayaan PT DVI terhadap kesetiaan pelanggan yang cukup tinggi membuat ATPM tersebut terlena sehingga tidak gencar melakukan promosi dan inovasi terhadap perbaikan model. Implikasinya berdampak langsung terhadap penjualan Vespa.
Merosotnya penjualan Vespa lebih disebabkan oleh lemahnya strategi pemasaran PT DVI. Salah satu hal yang bisa dijadikan senjata bagi PT DVI adalah model Vespa yang cenderung beda dan unik. Diferensisasi produk yang seharusnya menjadi ikon utama Vespa tersebut gagal ditampilkan dengan baik oleh PT DVI. Keunggulan teknologi mereka, seperti Automatic Oil Mixer dan CDI juga tidak direspon positif oleh konsumen karena tidak dirasakan sebagai barang baru bagi konsumen. Teknologi tersebut sudah diterapkan sejak lama pada motor-motor bebek 2 tak.
Dari sisi bauran pemasaran berupa produk, distribusi, promosi, dan harga juga tidak tampak hal baru. Dalam hal produk yang ditawarkan PT DVI, basic modelnya masih sama dengan tahun-tahun sebelumnya dan tidak ada inovasi yang berarti. Dari sisi distribusi, PT DVI tidak banyak membuka show room dan service center. Kebanyakan di satu kota hanya terdapat 1 dealer kecil saja. Hal ini akan sangat mempengaruhi persepsi konsumen mengenai layanan after sales yang ujung-ujungnya mengurungkan niat konsumen untuk membeli Vespa. Dalam hal promosi, masih dirasakan kurang berkelanjutan dan kurang gencar, tidak seperti para pesaingnya yang terus menyerang lewat berbagai media massa. Sedangkan dari sisi harga, patokan harga Vespa melebihi motor-motor bebek yang lain. Sebuah Vespa Exclusive baru harganya bisa mencapai 15 juta. Bandingkan dengan harga motor-motor bebek Jepang yang harganya bervariasi mulai dari 9-13 jutaan. Sedangkan Vespa CBU inovasi terbaru yang menggunakan teknologi perpindahan gigi otomatis (Scooter Matic) keluaran Piaggio Itali, seperti X5 atau X9, harganya sudah diatas 20 jutaan. Jika dilihat dari sisi positioningnya, dengan mengedepankan image kualitas Vespa yang cukup tinggi, dirasakan sudah tidak efektif lagi. Slogan Vespa yang berbunyi ”Lebih Baik Naik Vespa” sudah tidak memikat hati konsumen lagi. Persepsi kualitas Vespa bahkan berada di bawah Honda dan Yamaha. Hal ini diperoleh dari hasil survei MarkPlus Professional Services bersama SWA di 5 kota besar di Indoensia. Dari sini sudah kelihatan bahwa PT DVI sudah kesulitan memposisikan produknya di pasar. Pada awal masuknya Vespa ke Indonesia, segmentasi pasar Vespa sudah cukup jelas, yaitu diperuntukkan bagi kalangan menengah ke atas yang sudah cukup mapan. Sehingga image sebagi kendaraan yang memiliki prestise tinggi bisa terpenuhi. Namun sekarang kebanggaan memakai Vespa sudah mulai luntur. Diawali dengan tren perusahaan farmasi yang memakai Vespa sebagai kendaraan operasionalnya mengakibatkan konsumen enggan memakai Vespa karena tidak mau dikira penjual obat. Di sisi lain, Vespa-vespa bekas keluaran tahun 60-an hingga 70-an harganya turun drastis dan tidak mampu mempertahankan image prestise yang tinggi. Bayangkan, kalau dulu kita cukup menjual sebuah Vespa untuk membeli sebuah rumah, kini diperlukan 50 Vespa bekas untuk membeli sebuah rumah dengan kisaran harga 150 juta.
Komponen nilai pemasaran yang bisa digunakan untuk menganalisis kasus diatas adalah merek, layanan, dan proses. Merek Vespa dulu erat kaitannya dengan persepsi masyarakat tentang kualitas tinggi, menengah-atas, dan gagah. Dan banyak orang mengejar status sosial tersebut dengan membeli Vespa lantaran harga mobil waktu itu sangat tinggi. Namun sekarang citra merek tersebut sudah mulai luntur. Merek Vespa sudah tergantikan dengan hadirnya merek Kijang, Panther, Supra, Shogun, ataupun Jupiter di benak konsumen. Merek-merek tersebut gencar mempromosikan produknya sehingga brand awareness Vespa menurun. Kini Vespa hanya tinggal nama saja.
Sedangkan untuk masalah layanan, sebenarnya dari sisi produk Vespa sudah cukup reliable dan memberikan assurance, tetapi kurang responsif dan empati terhadap pembeli. Dalam hal proses, terlihat jelas pengembangan kerja sama antara Piaggio, Itali dengan ATPM di Indonesia dan dealer-dealer di daerah tidak berjalan dengan baik. Buktinya PT DVI tidak bisa mengantisipasi perubahan-perubahan yang terjadi.
Saya kira PT DVI perlu merubah strateginya untuk meningkatkan pangsa pasarnya di Indonesia. Pertama, Vespa perlu mempelajari variabel psikografik dalam menentukan segmen pasar, yang mencakup karakteristik, gaya hidup, kelas sosial, atau kepribadian dari konsumennya. Jangan hanya terbatas pada variabel geografik dan demografik saja. Kedua, target pasar yang dituju pun juga harus dirubah. Saat ini, Vespa ditujukan bagi mereka yang ingin tampil beda dan unik. Bukan ditujukan bagi mereka yang ingin membeli kendaraan yang umurnya panjang sampai 20 tahun. Konsumen sekarang cenderung memilih kendaraan yang hemat bahan bakar, murah, dan tidak rewel. Ketiga, survei untuk mengetahui persepsi masyarakat akan Vespa jangan terbatas pada pengguna Vespa saja. Pengguna non-Vespa juga perlu ditanyai mengapa anda tidak memilih Vespa? sehingga langkah-langkah yang diambil selanjutnya akan lebih efektif.
Selain itu taktik pemasaran Vespa seharusnya dititikberatkan pada masalah diferensiasi produk, bauran pemasaran, dan teknik menjual. Dengan menonjolkan bentuk dan model Vespa yang cukup unik dan beda akan mempengaruhi persepsi konsumen terhadap Vespa. Sedangkan dari sisi bauran pemasaran inovasi terhadap produk harus dilakukan secara berkelanjutan, promosinya harus gencar dan berkelanjutan, saluran distribusinya harus diperbanyak, serta harganya sebisa mungkin ditekan. Dari sisi selling, Vespa harus mulai menjual benefit ke konsumen atau bahkan menjual solusi, bukan hanya feature selling saja. Selain itu untuk meningkatkan loyalitas konsumen, perlu diadakan pembinaan klub-klub Vespa yang jumlahnya ratusan di Indonesia ini. Seharusnya PT DVI mewadahi para penggemar Vespa yang memiliki ekspresi dan ide-ide tentang restorasi dan modifikasi Vespa melalui pertemuan rutin, pameran-pameran, kontes otomotif, atau toruing bersama. Selain itu PT DVI diharapkan bisa memasok aksesoris-aksesoris pendukung tampilan Vespa yang orisinil berupa keranjang, lampu, emblem, helm, win shield, bagasi belakang, atau ban strip putih.
by Boim
http://www.facebook.com/note.php?note_id=81815601179
Comments
30 Responses to “Menurunnya Penjualan Vespa”
Leave a Reply





Ulasan yang sangat bagus sekali semoga PT DVI dapat segera merealisasikan segala aspek yang tergantung di atas, khususnya buat kita sebagai pengguna vespa jangan sampai vespa kita tidak bisa jalan karena onderdilnya tidak ada yang jual lagi he..he
Betul,, namun rasanya sudah sangat terlampau jauh DVI tertinggal. Sedangakan untuk menggenjotnya lagi butuh modal yg tidak sedikit. Sekarang DVI sepertinya sdh cukup puas dengan hanya memasukkan vespa builtup,, jadi hanya seperti importir umum saja
hidup vespa indonesia jgn mau kalah sm mtr lain
akhirnya orang vespa ada yang ngebahas dari segi disiplin ilmu,ga cuma pemain yang taunya uang uang uang,gara2 mreka harga onderdil pada naek semua
sampai skrg vespa tetep barang mahal contohnya vespa LX150. harganya jauh diatas motor2 jepang
Salam vespa indonesia, pa kbar sodara2 penggemar vespa di slruh indonesia,trus bagaimana komentar sodara2 tentang vespa tua yg ada d negara kita dijual kepada colector asing,apakah kita tdk khwatir d indonesia keberadaan motor antik sperti vespa akan berkurang jmlhnya,perlukah kita mencegah penjualan tersebut agar vespa yang slma ini kita gemari tdk menhilang dri negara kita!
Halo………….
Bagaimana saya bisa dapat model vespa terbaru dengan harga murah
ulasan yang sangat bagus & semog bisa mengubah pola pikir para pemengang saham, direksi, pimpinan & staff fi PT. DVI.
untuk kita yang tetap mengendari kuda besi from itali, jaga dan rawat warisan ortu kita jangan pernah di impor. mari lestarikan vespa di negara kita tercinta ini. hidup Indonesia, mari kita lestarikan ………………………………………………………………………………………….
DVI hancur…DVI hancur…
ironis sekali kalo keadaan sampe kaya gini..
coba aja liat sekarang..vespa rakitan yang baru sangat sulit ditemui..yang ada malah cbu..ga punya niat nih DVI..ganti tuh managementnya..
bukannya DVI udah tutup..CMIIW
Tulisan terbaik yg pernah saya baca Bro, memang sesuatu bila ingin tetap exist di Dunianya harus inovatif.Jangan sampai Brand yg kita cintai ini manjadi Seperti DINOSAURUS yang pernah BESAR (JAYA) jadi tinggal kenangan yaitu tinggal namanya doang yg dicari-cari ketemunya cuma FOSIL doang.Untuk Pt.DVI contohlah hasil-hasil modifikasi brothers vespais siapa tahu VESPA mereka ada yg sesuai permintaan pasar. SALAM SATU JIWA DARI BUMI BORNEO (sangattascoooterclub@yahoo.co.id)
y mau gmn lg…eh w punya karbu pts 100 ori n lkp ( saringan,intake) 800rb..021 91810730
kalo vespa mau diminati lagi, ..pt.DVI harus menggunakan strategi tempur yang lain…..jadikan komunitas scooter/vespa se indonesia sebagai co-marketing dalam promosi…sering2 adakan acara touring bareng komunitas vespa se indonesia…sekatang harga bukan masalah bagi masyarakat indonesia..buktinya harley aja tambah banyak…..yang PT DVI lupakan adalah “Noising strategy”…..ayo…tetap LEBIH BAIK NAIK VESPA !
Kira2 harga vespa sekarang brapa yah ? kalau 1jt dapet atau g ?
ak mau jual vespa special warna hijau candy thn 1979 mesin tokcer
ak mau jual vespa special thn 1979 warna hijau candy mesin tokcer call 08157916771
ya..ya..ya..ulasan yg cukup menarik…
tp gw khawatir apa yg dilakukan danmotor saat ini adalah sebuat trik atau siasat dagang…dengan menggunakan teori ekonomi “suplai& demand”
jika suata barang di suplai sedikit saja sedangkan demand atau peminatnya banyak maka secara otomatis harga barang tersebut membumbung tinggi…begitupun sebaliknya jika barang yg disuplai banyak dan demand (konsumen) sedikit secara otomatis harga barang akan derastis turun dengan sangat….
hal ini terbukti dan gw buktikan sendiri sekitar 2 minggu yg lalu di poskota ada iklan penjualan vespa exel th 2009 baru tertulis OTR (on the ROAD) di buka dengan harga 20jt,,,,
dan pasti laku karena memang peminat vespa di indonesia khususnya di kota2 besar masih sangat-sangat banyak….
viva vespa indonesia
Semua sudah terjadi!
Utk ke depannya, marilah kita lestarikan yg masih tersisa, dgn merawatnya agar tetap bisa hidup dan sanggup mengantarkan kita beraktifitas sehari2.
Sejarah saya bervespa, dimulai dari orang tua yg membeli vespa lansiran 1977, gress dari dealer di jln. Gunung sahari pd wkt itu.
Warnanya kuning. Sekarang hanya tinggal fotonya. Karena org tua pd wkt dulu menukarnya dgn kendaraan roda 4.
Lalu kangen vespa lagi, ortu saya membeli vespa lagi kluaran 76 kondisi second, warna biru, setelah saya bisa mengendarainya pd thn 1988, akhirnya vespa biru diganti dgn spartan thn 85 warna merah. Wuiih larinya mantap, 200cc.
Waktu berlalu, akhirnya sekarang saya setelah punya anak 3, masih pake vespa excel th 92.
Hemmmm pokoknya vespa mendominasi sejarah keluarga saya.
Vespa forefer…
era 60an saking Terkenalnya Vespa PT.DVI tidak menjadi ATPM tunggal dari PIAGGIO S.A. Itali terbukti dari adanya faktur2 atau tulisan halaman 2 pada BPKB Vespa ( tapi sayang saya lupa nama ATPM lainnya he7x…) baru sampai th1968 PT.DVI menjadi ATPM tunggal. Saat ini untuk merk dagang PIAGGIO dan anak perusahaannya ( kecuali DUCATI ) di indonesia dipegang oleh SUN MOTOR dengan target konsumen kelas menengah keatas. Salute buat pedagang second hand VESPA yang bisa menguasai harga pasaran dari VESPA terbukti dengan fluktuatifnya harga pasaran dari type tertentu VESPA. Semoga harga “brand new second hand” yang memikat dapat menahan VESPA indonesia tidak keluar dari Pabean sebagai barang ekspor…
sedikit ralat ma tulisan diatas karena PT. Danmotor Vespa Indonesia(DVI) bukan yang pertama kali mendatangkan Vespa ke Indonesia tetapi PT. Kramat Vespa (anak perusahaan PT. Ciliwung bergerak di bidang penjualan barang2 import)sebagai importir umum sekaligus ATPM pada era akhir 1950 kemudian pada akhir 1960 PT.DVI membeli lisensi dari Piaggio Italy. Berhubung PT.DVI mempunyai modal yang besar maka untuk wilayah Indonesia akhirnya Piaggio Italy mempercayakan lisensi vespa dipegang oleh PT. DVI dan akhirnya PT. Kramat Vespa dijadikan sebagai bengkel resmi vespa pada tahukln 1970. (klo mo ada pertanyaan lebih lanjut layangkan aja ke FB gw a/n La Signorina SaMe)
saya setuju seharusnya kita diwadahi ya,krn club2 mobil& motor jg kaya gitu
mau nanya nih. kira2 kalo mau beli vespa tahun 60an harganya 2-3 jutaan ada ga yah?
siip. sekarang vespa harus dimiliki dari semua kalangan tidak terkecuali. buat apa ada ratusan klub dan ribuan motor vespa kalo semua ga didenger
…sekali vespa tetap vespa ….nggelinding yuuuk…..
gw cinta mati sama vespa
ilove u full dah…..
vespa ohhh vespa……..
vespa tetap vespa bagi gw vespa tak ada bandingnya karena vespa merupakan produk maha karya, penuh dengan seni tinggi! bravo vespa !!
vespa gw gaya w,,,maju terus vespa indonesia!!!!ayo donk PT DVI kluarn inovasi2 mu,,spya vespa indonesia lbih mju dr jmnnya doi dibrojolin di indonesia…ditunggu ne perubahannya!!!
sesuai dgn motto nya..Lebih Baik Naik VESPA….
Ada Vespa 61, full original, cat ori, ban ori michelin, silender kop belum pernah di buka, pajak hidup, yang berani beli buka harga berapa ?