|
Page 1 of 2 Jakarta – Penggemar Vespa di Indonesia pasti menomorsatukan motor
kesayangannya. Pembenaran yang sering kita dengar bahwa hanya ada satu
sepeda motor yang dianggap paling seksi, yakni Vespa! Boleh-boleh saja jika tak
setuju. Tengoklah sekali lagi tampilan motor buatan Italia itu secara jeli.
Seluruh tubuhnya cenderung bulat dan ”ekornya” menyerupai lekuk Inul Daratista,
penyanyi dangdut terpanas saat ini.
Apakah karena bentuknya yang lucu dan ”seksi” lalu ia menjadi kondang? Bisa-bisa
saja begitu. Tapi waktu telah mematrikan namanya sebagai salah satu motor
terpopuler yang melegenda di dunia. Kepopulerannya, menurut data, mulai menggila
sejak pertengahan 1950-an. Padahal saat itu, Piaggio, produsen motor ini, belum
sampai 10 tahun memproduksi Vespa, angka penjualannya melejit lebih dari 15 juta
unit pada 1956.
Kini skuter itu telah jadi barang antik bagi pemiliknya dan dijadikan koleksi
kesayangan. Sesama pehobi lalu membuat wadah, tempat mereka berkumpul dan
bertukar pikiran. Bentuknya bisa klub atau paguyuban yang tak mengikat. Bahkan
kehadiran internet di dunia maya dipakai sebagai tali batin sesama pehobinya
untuk selalu mencintai Vespa yang sudah mengglobal itu.
Di Tanah Air tak heran jika perkumpulan penggemar skuter ini berserakan, mulai
dari ibukota provinsi, kabupaten, hingga tingkat kecamatan. Ada yang aktif dalam
klub atau cuma sebatas penggembira saja. Tapi inilah sebuah ketertarikan yang
telah menjadi fenomena. Berlandaskan semangat kekeluargaan, mereka pun
melahirkan aneka perkumpulan yang masing-masing lahir dengan kesamaan misi dan
visi.
Di Mana-mana
Di Tangerang pada era tahun 1991-an dikenal sekali Vespa Tangerang Club (VTC).
Karena terkenalnya anggotanya pernah mencapai rekor 500 orang. Tapi kini VTC
sudah almarhum, dan penggantinya ada dua klub di sana. Salah satunya adalah
Budavest (Budak Vespa Tangerang) yang lahir pada 2001.
Menurut Eko Sulistyanto (32), sekretaris klub, anggota Budavest sekitar 250
orang. Sementara populasi jenis motor itu tak lebih dari angka 500 buah.
Sementara di Bogor ada Vespa Club Bogor atau lebih ngepop terdengar VCB.
Perkumpulan pehobi ini boleh dibilang telah karatan di kota hujan ini. Kalau
sempat mampir, siapa pun insan otomotif kota ini langsung mengangguk saat
ditanya keberadaan VCB. Maklumlah klub yang pernah mengecap masa keemasan ini
sudah berkibar sejak 1991.
Kiprah VCB ini juga kebanggaan Yunus. Malah, ia begitu bangga dengan menyebut
bahwa klub tersebut adalah klub vespa pertama di Jawa. Ini didasarkan pada hasil
pengamatannya sewaktu popularitas skuter masih sepi. Memang saat dicek, tak ada
satu orang pun yang bisa memastikan siapa dulu yang memulai mempopulerkan skuter
lewat klub.
Bermodalkan semangat dan rasa kekeluargaan yang tinggi, VCB tumbuh dengan grafik
turun naik. Ada suatu masa dengan kuantitas anggota yang tinggi, tapi ada pula
waktu ”paceklik” anggota. ”Kami tidak bubar, masih tetap eksis kok. Cuma
orang-orangnya yang aktif memang tidak sebanyak dulu,” sergah Yunus. Alasannya,
macam-macam. Tapi rata-rata menyatakan sibuk dengan rutinitas. Padahal, asal
tahu saja, mereka sempat tur dengan 250 skuter ke Pelabuhan Ratu pada 1996-1997.
Sementara bagi Mataram Scooter Club (MSC), punya kiat tersendiri untuk menjaga
loyalitas dan keaktifan anggotanya. Mereka tak berambisi merekrut anggota dalam
jumlah yang berlebihan. Targetnya, cukup seratus saja. Dari situ, tiap periode
dinilai. Kalau ternyata hasilnya rendah, maka anggota itu dipersilakan mundur.
Meski begitu, menurut Agustinus Sutarto (32) yang juga ketua harian MSC, jarang
sekali ada anggota yang sampai harus dicoret dari daftar keluarga MSC. Sebab,
sifat kekeluargaan tetap dijunjung tinggi. Kesadaran dan loyalitas telah tumbuh
dengan sendiri.
Agar lebih mudah, MSC membagi perkumpulannya menjadi lima distrik (baca: wilayah),
yaitu Jakal (Jalan Kaliurang), Scotsa (Scooter Salam –seputar Salam, sebelum
Muntilan), Vascy (Vespa Familiarcy), Pabses (Paguyuban Skuter Seputar Sleman)
dan terakhir Ngayogyakarto – daerah pusat.
Lewat sistem distrik itu, populasi skuter di kota gudeg ini bisa tersebar merata.
”Pasti masing-masing wilayah berusaha cari rekan untuk diajak gabung. Dari segi
manajemen juga lebih mudah dan sekretariatnya nggak jauh,” papar Agus, pemilik
Lambretta 1965 dan Vespa 1964.
Jatuh Hati
Kalau bicara pada penggemar skuter selalu keluar cerita tentang jatuh hati. Soal
awalnya kesengsem pada skuter, Agustinus Sutarto punya kisah menarik. Pehobi
dari Yogyakarta ini jatuh cinta karena tunggangannya itu mirip kumbang. Badannya
terisi padat, sedang kepalanya kecil. Namun kalau menilik sejarah, pendapat
Agustinus tadi tak salah (lihat boks: Sejarah ”Kumbang Penyengat”). Seri pertama
skuter ini, ketika pertama kali lahir (1945) adalah P108, yang berteknologi
sederhana namun bentuknya menarik karena mirip lebah.
Ariendhana (29), pehobi lain yang mukim di Kawasan Meruya, Jakarta, lain lagi
ceritanya. Dia sudah tertarik dengan Vespa sejak kecil ketika tinggal di Bandung.
Di sana dia melihat paman dan saudara-saudaranya memakai motor itu. Sejak itulah
dia punya mimpi terhadap skuter itu. Namun realisasi mimpinya itu baru
terlaksana tahun 1999.
Cintanya yang terpendam lama itu dibuktikan kini dengan mengoleksi dua buah
Vespa, yakni Vespa Super tahun 1974 dan 1962. Sebagai anak muda dan ingin tampil
beda maka skuternya sudah dimodifikasi keduanya. Menurutnya Vespa yang lama-lama
bandel dan lebih kuat ketimbang yang baru. Dugaannya mungkin pembuatnya dahulu
masih idealis ingin membangun yang terkuat sehingga materialnya dibuat dari
bahan terpilih. (boris-vio-031)
----------------------------------------
VESPA : Never Goes Out Of Style !!
----------------------------------------
disadur dari : Harian Jakarta Add as favourites (90) | Quote this article on your site | Views: 7203
<< Start < Prev 1 2 Next > End >> |