|
Page 1 of 2 Perempuan yang naik motor bebek atau yang nyetir mobil adalah
pemandangan sehari-hari yang biasa. Tetapi perempuan yang mengendarai sebuah
Vespa adalah hal luar biasa bagi saya. Saya belum pernah melihat seorang
perempuan mengendarai Vespa sebelumnya, kecuali di film. Hal yang tidak biasa,
tapi teman saya benar-benar melakukannya. Seorang mahasiswi semester 7 yang
sering pulang-pergi Jakarta Bogor dengan mengendarai sebuah Vespa. Menurut
pengalaman saya, agak sulit mengendarai Vespa seperti yang dimilikinya, sebuah
Vespa Piaggio keluaran 1960an.
Alasan lain kenapa saya mengatakan tidak biasa adalah karena
pada umumnya wanita Indonesia lebih nyaman naik motor bebek ketimbang naik Vespa,
disamping itu agak sulit untuk menyalakan mesinnya, terutama untuk perempuan.
Bawaan Vespa juga lebih berat ketimbang motor lainnya seperti motor bebek atau
skuter jenis matic. Vespa juga lebih sering mogok dan lebih boros.
The Vespa rider
Saya tidak tahu apa yang melatarbelakanginya mengendarai Vespa mungkin karena
nilai historisnya atau karena keantikan Vespanya. Lusti Istiqomah a.k.a Uty the
Vespa rider itu adalah teman saya se-Fakultas tapi beda jurusan. Perempuan
tangguh ini masih kuliah di program studi Teknologi Produksi Ternak, Fakultas
Peternakan IPB. Sering pulang pergi dari rumahnya di daerah Kebon Jeruk ke
kostannya di Bogor.
Orangnya lumayan unik, blasteran Betawi dan NTB. Jilbaber yang sering nongkrong
di sekretariat BEM, soalnya doi aktivis kampus. Menurut Uty kalau ketemu sesama
pengendara Vespa di jalan biasanya Uty disenyumin, tentunya sama Mas-mas atau
Bapak-bapak. Kadang ada juga yang ngacungin jempol, mungkin karena salut. Uty
juga mengaku tidak pernah berpapasan dengan sesama perempuan pengendara Vespa.
Jangan-jangan Uty satu-satunya! What a girl!
The Vespa
Sebuah Vespa tipe Scooter Piaggio warna biru keluaran 1964 bernomor polisi B
3866 WN, No. mesin VBB2M226312, dan No. rangka VB2T233916 (lengkap amat!).
Kapasitas mesinnya tidak jelas hanya tertulis lebih dari 50 cc, gearnya ada 3.
Bodynya masih bagus walau ada beberapa lecet. Motor ini juga sering dipakai
adiknya, perempuan pula. Saya pernah menjajal Vespanya Uty sekali. Beda sekali
rasanya naik motor bebek saya sama naik Vespanya Uty.
Oia, Vespanya Uty bisa nyetrum soalnya tombol klaksonnya sudah naked alias tidak
dibungkus lagi. Lampu depannya sudah tidak nyala, tapi katanya sekarang sudah
diperbaiki. Rem depannya juga blong, jadi Uty hanya menggunakan rem belakang
saja. Dan seperti pengendara Vespa pada umumnya, selalu ada oli samping di
bagasi Vespanya Uty. Kalau tidak salah Uty pernah bilang untuk jarak Jakarta-Bogor
biasanya Uty isi bensinnya fulltank dan tidak habis semuanya. Mungkin kira-kira
butuh 2 liter bensin.
Saat tulisan ini dibuat Uty sedang meluncur menuju Jakarta dengan Vespa birunya
tentunya dan ketika diconfirm via SMS barusan katanya Uty lagi ngaso sambil beli
stiker buat Vespanya. Kalau suatu saat anda menemukan seorang perempuan
berkacamata dan berjilbab mengendarai Vespa berplat B 3866 WN, besar kemungkinan
itu Uty teman saya. Silakan sapa, orangnya ramah, baik hati dan tidak sombong.
That’s all I know about Uty and her Vespa. Keep riding your Vespa, Uty!!!
(Doan Ilman)
Add as favourites (60) | Quote this article on your site | Views: 3602
<< Start < Prev 1 2 Next > End >> |